Salah tetap salah!

Malam, dua hari yang lalu, saya posting ke FB sebuah foto yang berisi kertas jawaban TAS salah satu kelas yang saya ampu. Di kertas tersebut tertulis dengan jelas “MENYONTEK😡 

Dalam waktu kurang dari 12 jam ratusan jempol, wajah sedih, wajah kaget, dan tanda cinta menghiasi foto tersebut. Tidak kurang dari 30an komentar menghiasinya. Ada yang setuju, ada yang tertawa, ada yang marah, ada yang meminta supaya tidak dikonsumsi publik juga. 

Sejujurnya, foto tersebut memang sengaja saya poting ke FB sebagai bentuk kekesalan saya juga teguran keras dari saya untuk semua kawan mahasiswa yang mengambil kelas saya. Awal tahun ini saja sudah ada yang saya usir dari kelas karena nyontek.

Rencananya setelah 12 jam beredar di dunia maya, saya akan sembunyikan foto tersebut (maaf buat teman2 yang mungkin penasaran tentang foto tersebut). Sayangnya baru 10 jam sejak beredar dan saya sudah mengganti privasi foto tersebut dengan “only me”. Sudah cukup hukumannya, pikir saya.

Banyak yang mendukung keputusan publish on social media, dan tidak sedikit pula yang tidak setuju. Apalagi di foto tersebut masih terlihat jelas nama dan NIM dari beberapa mahasiswa yang melakukan CONTEK-PERCONTEKAN massal tersebut.

Sebenarnya TAS dalam bentuk take home test. Kawan-kawan mahasiswa boleh mengakses soal yang ada di g-class (kelas virtual) kami. Saya sepenuhnya percaya kepada mereka, atau mungkin lebih tepat, memberanikan diri untuk percaya bahwa mereka akan mengerjakan dengan jujur. Ternyata, 90% dari mereka melakukan copy-paste. Mentalitasnya itu loh 😦 memang JUJUR itu sulit…

Beberapa teman saat diskusi dengan saya di kafe kampus menyampaikan perihal tidak setuju mereka terkait postingan tersebut di medsos.

“Itu kan bikin malu mereka mas!”,
“Coba deh kalo kak di posisi mereka?”,
“Kan dibaca banyak orang mas, teman2 maupun keluarga mereka. Kan kasihan!”.
“Itu kan bikin malu tempatmu mengajar dong, pak!”

Saya jawab simple, “Kalau orang korupsi kalian marah gak?“. Semua terdiam….

Apakah saya mempermalukan mereka? Bukankah ketika mereka memutuskan untuk menyontek atau memberikan contekan, saat itu juga mereka sudah setuju untuk mempermalukan diri sendiri dan keluarga mereka? Bagaimana kalo saya di posisi mereka? Yang jelas saya tidak mau diposisi mereka karena saya tidak pernah mau mempermalukan diri saya dan keluarga. Kalau memang saya tidak bisa, saya akan jujur memang tidak bisa, daripada membodohi diri sendiri.

Apakah saya mempermalukan tempat saya mengajar?
Ah, bukankah dengan begitu menunjukan bahwa tempat dimana saya mengabdi benar-benar masih menjunjung tinggi “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan?“. Maaf, bukan sok suci.

Sejak kemarin sampai pagi tadi, beberapa sudah bertemu saya untuk melakukan ‘pengakuan dosa’, tetapi lebih banyak yang tetap bersikukuh; tidak menyontek. Bagi yang tetap nekad dan ngeyel, saya minta jelaskan bagaimana cara mereka menyelesaikan soal TAS tersebut. Dan tetap tidak bisa menjelaskan. Bukankah ini sudah membutkikan bahwa mereka menyontek? Saya coba interogasi, dan pengakuan jujur dari mulut “saya nyontek kak, maaf“.

Ada juga pengakuan seperti ini:
“Iya kak, kami mengerjakan bersama-sama”
“Berapa orang kalian yang mengerjakan bersama-sama?”
“6 orang kak!”
“Lalu kenapa ada 32 orang yang sama persis?”

Atau pengakuan seperti ini:

“Jujur kak, untuk nomor 3 saya nyontek di internet”
“Iya saya tahu, tapi jawabanmu salah karena soal di internet itu saya ubah untuk mengelabui kalian. Karena kalian malas makanya asal jiplak!”

Pengakuan lainnya:

“Soal nomor 1 saya kerjakan, nomor 2 dikerjakan teman yang satu terus nomor 3 kami nyontoh dari internet kak. Sedangkan nomor 4 ngopy teman saya yang satunya”
“Perintahnya mengerjakan sendiri atau tugas kelompok?”
“Sendiri kak”, sambil tertunduk.
“Tindakanmu dan teman-teman itu nyontek atau bukan?”

Terdiam lagi….

Salah tetaplah salah

Tindakan korupsi bermula dari sikap tidak jujur. Menyontek, sama juga bukan? bermula dari sikap tidak jujur.

Jangan pernah menganggap salah itu dapat dibenarkan, kalau anggapan itu terjadi maka negeri ini tidak akan pernah bisa memberantas korupsi. 

Saya pendidik, bertugas mendidik. Maaf kalo cara mendidik saya terkesan keras. Bagi saya, kalian adalah masa depan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s