Merindu untuk menyapa…

Ada 3 jurnal yang harus kuselesaikan dalam waktu mepet. Tapi entah mengapa, jemari ini lebih mudah menari di atas tulisan curhat daripada tulisan ilmiah :p Otak seakan susah diajak berpikir yang ilmiah. Ah sudahlah, lebih baik kita nulis aja apa yang ada di kepala saat ini. Biar suatu saat nanti akan jadi secuil sejarah😉

_________________

Biasanya saya malas melangkahkan kaki untuk ngangkot. Lebih sering menjadi manja dengan hanya menginjak kopling, rem dan gas. Pagi ini saya memutuskan untuk naik angkot ke kampus. 

Masih ada 2 pilihan, mau ngangkot sampai depan kampus dengan syarat naik angkotnya 2 kali (istilah kerennya “oper”) atau naik angkot sekali tetapi harus jalan sekitar 200 meter. Pilihan saya jatuh yang kedua.

Sepanjang perjalanan yang kutempuh dengan jalan kaki, mungkin ini jalan kaki paling lama yang kurasakan, dan paling berat karena berkeringat. Tapi ini jalan kaki paling nikmat🙂 Sepanjang jalan bertemu banyak orang, dan saya teringat hal bodoh paling indah yang sudah lama tidak kulakukan; menyapa orang.

Kenapa hal bodoh?
Jadi ingat, pertama kali saya ditantang oleh papa saya untuk menyapa orang-orang di jalan, saya membantah dengan mengatakan “Itu hal bodoh dad!”. Papa saya sering bertanya setiap hari ketika saya pulang sekolah. “Berapa orang yang kamu sapa hari ini?”. “Gak ada dad”, jawab saya singkat. Dan pertanyaan itu akan berulang terus setiap hari. Jarak dari rumah ke sekolah hanya 500 meter. Saya menempuh dengan jalan kaki. Sudah pasti di sepanjang jalan saya akan bertemu belasan bahkan mungkin puluhan orang. Dan papa saya meminta saya untuk menyapa semua orang, yang mungkin tidak ada satupun yang saya kenal, sepanjang perjalanan ke sekolah.
Dua minggu berselang, saya berhasil menyapa 3 orang dalam perjalanan ke sekolah. Itu keberhasilan mas bro!, pikirku. Tapi sejujurnya yang terjadi hanyalah emosi jiwa karena dari ketiga orang yang kusapa tidak ada satupun yang membalas senyumku, yang pura-pura itu.
Kemudian secara bertahap, 5 orang, 7 orang, 10 orang, dan sampai akhirnya saya sendiri lupa sudah berapa banyak yang kusapa dalam sehari. Lama kelamaan, senyum saya semakin tulus, tidak lagi pura-pura. Berlanjut terus…..sampai akhirnya memudar….saya lupa kapan terakhir saya menyapa orang yang saya temui di jalan dengan tulus. Mungkin 15 tahun yang lalu, atau mungkin 10 tahun yang lalu. Yang jelas, sudah sangat lama….

Pagi ini terasa indah, karena saya kembali mengingat memori itu. Hal bodoh yang indah itu. Ada yang membalas sapaan saya dengan “selamat pagi”. Ada juga yang hanya senyum. Tapi ada juga yang cuek, mungkin mereka pikir saya orang gila. Ah sudahlah, bagi mereka bukan apa-apa, tapi bagi saya itu sesuatu banget😀

Jaman berubah, saat ini kebanyakan kita lebih suka menyapa lewat status di media sosial. Sayangnya ketika bertemu secara langsung dengan teman, kita pura-pura lupa untuk menyapa atau memang enggan untuk menyapa. Teknologi memisahkan kita.

Kalo masih ada kesempatan kawan, cobalah untuk menyapa orang yang kau temui di jalan. Jangan lupa untuk senyum tulus kepada mereka. Siapa tahu senyum dan sapaanmu akan menjadi pembeda bagi hidup mereka di hari ini.

Hidup sudah susah, jangan terlalu ditambah susah.

Selamat pagi kawan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s