Firsteva Selvi Mailoa!

Tepat setahun yang lalu….
Jumat, 27 September 2013 pukul 10AM, saya bersama istri cek kehamilan sang istri (bukan kehamilan saya tentunya) ke dokter Adi di RS DKT Salatiga. Disarankan pak dokter untuk segera mondok karena si kecil yang masih dalam perut mamanya sudah saatnya untuk lahir🙂 Karena istri saya ingin melahirkan di RS Bersalin Permata Bunda maka dibuatkanlah surat pengantar oleh pak dokter ke RS yang dimaksud.

Panik bercampur senang🙂 Saya panik karena sudah sejak 2 bulan terakhir memikirkan nama untuk si buah hati tapi belum juga nemu nama yang pas😦 tetapi saya juga senang karena tak sabar melihat si cantik ini lahir😀

Kabar bahagia tentang akan lahirnya si cantik sampai juga kepada si opa dan oma (papa dan mama saya) yang nun jauh di Halmahera sana. Papa saya mengirim sms yang bunyinya “Mulailah bernyanyi memuji TUHAN menyambut kelahiran anakmu, anugerah dari TUHAN. Jangan berhenti bernyanyi sampai anakmu lahir! Jangan pernah berhenti memuji DIA!”. Semula saya pikir ayah saya mulai gila! Masa saya harus bernyanyi dari pagi hari? Tanda2 si kecil lahir saja belum ada. Dan seperti biasa, saya cuek bebek alias malas memikirkan sms dari papa saya tercinta.

Dari pagi sampe menjelang malam, istri hanya terbaring lemas di tempat tidur sambil mengeluh mules. Saya bingung dan pasrah. Maklum saya tidak bisa merasakan hal tersebut, jadi ya gak tahu seperti apa rasanya. Semakin sore semakin banyak orang berdatangan, baik teman nyanyi, para sahabat dan keluarga. Sampai jam 9PM tetap tidak ada tanda2 si kecil akan lahir. Satu persatu teman mulai berpamitan pulang sambil mendoakan istri saya yang sedang berjuang🙂


Tapi ada juga yang menanti dengan was-was. Diantaranya bu Nat dan si Reina🙂 Tante Sil dan Om Yus Nikijuluw. Malam semakin larut saya meminta untuk bu Nat dan Reina pulang saja, toh belum ada tanda2 pasti kalau si kecil lahir malam itu. Saya pikir mungkin baru akan lahir besok pagi atau siang.

Pukul 9PM istri sudah diminta untuk masuk ke ruang persalinan, dan hanya boleh ditemani satu orang saja. Tetap saja saya ngeyel masuk berdua dengan mbok de. Mbok d’ yang momong istri saya sejak kecil, tak tega melihat istri saya berjuang sendirian, jadinya kami berdua menemani di ruang persalinan, sambil ngantuk tentunya😀

Seingat saya, mulai jam 10PM istri saya sudah teriak-teriak menahan sakit. Dan seperti biasanya, saya bingung. Bapak dan Ibu dari istri masuk ke dalam ruang persalinan. Keduanya tak tega melihat istri saya menangis kesakitan. Bapak pun meminta saya untuk meminta kepada dokter agar dilakukan caesarean section alias operasi sesar. Saya menolak.
Bukan masalah biayanya (memang sih biaya operasi sesar mahal), tapi karena permintaan istri saya sebelumnya bahwa dia ingin melahirkan secara normal.

Saya kemudian teringat sms dari papa saya, “bernyanyilah!”. Saya mengajak istri saya yang sedang menahan sakit untuk berdoa dan nyanyi bersama. Istri saya dianugerahi suara yang merdu, jadi kalo nyanyi walaupun sambil nahan sakit dan menangis pun tetap terdengar indah. Sedangkan saya, kebalikannya😀 gak nangis aja sering fals apalagi kalo nangis :p
Mendengar kami bernyanyi, dua orang suster jaga langsung menyahut, “iya bu, nyanyi aja bu…. nanti anaknya biar lahir normal…. sambil nunggu pembukaan”. Dan kedua suster itu tertidur lelap diiringi nyanyian saya dan istri.

Saya memutuskan untuk menemani istri saya melahirkan.

Pukul 2AM si suster terbangun kemudian menengok istri saya sambil ngomong, “belum bukaan bu… tunggu aja ya…”. Si suster kemudian kembali tidur. Ibu suster sih enak, tidur lalu bangun ngecek sudah bukaan atau belum terus tidur lagi. Lah saya, sudah berjam-jam nyanyi dan tidak bisa tertidur. Haha😀

Sekitar pukul 3AM si suster bangun lagi karena ada telepon. Ternyata yang telepon adalah dr Adi. Beliau menanyakan keadaan istri saya. Memang ya dokter kandungan tuh gak bisa tidur nyenyak juga ternyata! Untung saya bukan dokter! Haha😀 Si suster menutup telepon kemudian ngomong sama istri saya, “kata pak Adi, ketubannya dipecahin saja biar si kecil bisa segera lahir”. Istri saya melihat ke arah saya kemudian memberi isyarat bertanya, saya pun langsung mengangguk tanda setuju. Maklum saya juga tak paham sama sekali😀

Pukul 3.30AM istri saya ngomong dia sudah tidak kuat lagi. Minta untuk sesar aja. Saya minta dia untuk tetap bertahan. “Sedikit lagi sayang…..” saya berusaha meyakinkannya padahal saya sendiri gak tahu rasanya seperti apa.

Pukul 3.45AM suster mengecek istri saya kemudian menelepon pak dokter.
Ada secercah harapan!

Istri saya tetap menangis dan bernyanyi. Haha!😀 Saya pun demikian.
Dia semakin sering teriak, “sudah gak kuat pa….”. Karena gak tahan, akhirnya saya ‘bohongin’. “Itu pak dokter sudah di depan lagi parkir mobilnya” begitu kata2 saya mencoba membawa angin sorga buat kuping istri saya. Istri saya sempat percaya, setidaknya sampai 10 menit kemudian baru dia sadar pak dokter belum datang.

Pukul 4.05AM pak dokter muncul di ruang persalinan dan mempersiapkan diri. Raut wajah istri saya berubah.

Tepat pukul 4.10AM, si cantik lahir. Dia menangis, istri saya menangis, dan saya juga. Itu tangisan saya yang paling bahagia! Gak sia-sia saya konser nyanyi dari jam 11an malam sampai jam 4 subuh! Entah sudah berapa ratus lagu saya nyanyikan, dari yang jelas kata-katanya sampai yang kata-katanya saya improve karena lupa. Tapi yang jelas suara saya gak habis untuk memuji DIA Sang Pemberi Hidup!

Semula ketika ditanya istri saya, “mau punya anak berapa pa?” saya selalu jawab, “sebelas! biar bisa jadi satu tim sepakbola!”. Tapi begitu menemani dia berjuang saat persalinan benar-benar merubah sudut pandang saya. Persalinan itu perjuangan antara hidup dan mati! Terpujilah engkau wahai para perempuan🙂

Dalam kebahagiaan yang super duper wow! saya keluar sambil tersenyum bahagia untuk bertemu keluarga yang menanti di luar. Sayangnya begitu saya keluar, mereka semua sedang tertidur pulas. Maklum, semua kelelahan menanti persalinan istri saya. Kubangunkan satu persatu dan kusampaikan berita bahagia itu. Semuanya lantas bergegas, berebutan untuk melihat si cantik yang baru lahir lewat jendela di ruang bayi.

eva - lahireva - te

Itu pagi paling membahagiakan dalam hidup saya😀

Begitu ditanya, siapa namanya? Saya menjawab dengan yakin: FIRSTEVA SELVI MAILOA!
First untuk menandakan bahwa dia anak pertama, EVA untuk singkatan nama saya dan istri (belakangan istri saya protes karena yang mewakili namanya hanya huruf A, tapi dia tetap senang dengan pilihan nama ini), SELVI merupakan nama panggilan omanya, alias mama saya; yang artinya pemimpin yang benar dan tegas, dan MAILOA sebagai nama marga dari papanya. Harapan kami, anak ini akan menjadi anak pertama kami yang kelak akan menjadi pemimpin yang benar dan tegas! Semoga🙂

Dua bulan sudah mencoba untuk tengkurap🙂
eva - tengkurap eva - tengkurap mama

Mulai banyak tingkah dan suka meniru🙂

                 eva - la eva - lag

ecTujuh bulan sejak kelahirannya, dia mulai menari yang bikin semua orang terheran-heran…. Coba lihat video.

Besok, Minggu 28 September 2014 merupakan hari ultahnya yang pertama. Tulisan ini saya tulis sebagai sejarah, sebelum nantinya saya dimakan umur dan menjadi semakin pelupa. Semoga suatu saat nanti, ketika kelak si eyva bisa membaca sejarah ini dan mengingat bahwa banyak orang yang mencintainya dan merindukan kehadirannya di dunia.
 eva - lagaaaDSC01072

Selamat ultah nak…. TUHAN YESUS menyayangimu, begitupun kami, kedua orang tuamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s