Sama-sama makan Nasi kan?

Sudah terlalu sering saya mendengar baik dari para elit akademisi maupun birokrat, baik itu Menteri Pendidikan sampai kepada jajaran bawahannya yang terhormat bahwa akan ada pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia. Namun buktinya? Apakah Papua bukan Indonesia? Kenapa Sumber Daya Alamnya digerus terus tapi Sumber Daya Manusianya seakan tetap dibuat tidak maju? Ah, terkadang saya suka ngomong: “Biarkan Papua Merdeka!”

“Di tempat kami bapak guru tuh dia datang satu minggu satu kali kaka!” itu kalimat yang keluar dari salah seorang mahasiswa dari Papua ketika kami ngobrol santai sambil jalan menuju ruangan saya, sehabis kelas matrikulasi.
“Misal hari ini dia su datang, nanti minggu depan lagi kalo bukan selasa berarti rabu baru dia datang ulang”, begitu tuturnya yang diamini teman-temannya yang lain dengan gaya khas mereka: “betul itu kaka!”.
Saya mulai berkenalan dengan adik-adik mahasiswa dari pedalaman Papua ini sekitar tiga minggu yang lalu saat kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Kami kemudian semakin akrab ketika saya mengajar matrikulasi matematika.

“Kaka, boleh kami ikut kaka pung kelas kah? Tapi kami tidak ada di daftar absen kelas ini. Bolehkah?”, itu bunyi pertanyaan salah satu adik-adik mahasiswa ini. Saya mengiyakan, memperbolehkan mereka ikut kelas matrikulasi yang saya ampu.

Di dalam kelas, ketika kami bahas beberapa topik, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit, saya tidak pernah mendengar mereka bertanya. Mereka hanya diam, tapi dari raut wajah mereka saya tahu kalau ada sesuatu yang mereka pendam. Selesai kelas, saya minta mereka untuk tinggal sejenak. Kami terlibat percakapan aktif, saya sesekali mencoba berbicara dengan logat mereka (padahal saya juga tidak bisa) dengan harapan mereka mau lebih terbuka. Dan benar, mereka mau terbuka dengan saya.
Ternyata oh ternyata mereka tidak paham dengan materi yang saya ajarkan di kelas matrikulasi. Saya bertanya: “bagian mana yang kalian tra mengerti? yang belakang itu kah yang susah atau yang mana?”. Saya mengira mereka tidak paham ketika materi sudah mulai masuk ke radicals, exponent, inequalities, atau absolute value, yang sejujurnya menurut saya itu masih tergolong lumayan mudah. Saya terhentak dengan pernyataan salah satu dari mereka. “Kaka, sa tra mengerti dari awal. Jangankan kuadrat dengan kuadrat dikalikan. Kasi tambah saja saya bingung! apalagi kalo su ada itu negatif negatif!”. Saya ditampar! Ekspektasi saya terlalu tinggi. Saya terlalu menuntut yang lebih dari mereka…..

Saya kemudian ngajak mereka untuk ngopi bareng di kafe depan kantor sambil belajar matematika bersama. Saat mereka belajar matematika, saya belajar banyak tentang hidup dari mereka🙂
“Di kitong pung sekolah kaka, guru Agama dia juga mengajar Kimia dan Fisika kaka. Soalnya su tra ada guru lain!”, ucap salah satu adik sambil mengerjakan soal latihan yang saya berikan. “Ah masa seperti itu adik? Su tra ada guru lagi kah?” tanya saya. “Betul kaka, apalagi kalo dong su trima duit langsung su ilang ke Wamena atau ke Jayapura!”, sahut yang lain.

Sampai hari ini, ada beberapa dari mereka yang masih rajin setiap hari ke ruangan saya, baik itu belajar math atau komputer. Saya salut dengan semangat mereka! Mereka tahu mereka punya kekurangan, tapi tidak mau menyerah🙂 bahkan ada satu di antara mereka yang bilang: “kalo sa su pintar kaka, nanti sa mo pulang ajar sa pung ade-ade dong di sana supaya dong juga pintar”.

Saya selalu ingatkan mereka dengan pesan dari mama saya: “Jangan menyerah kalo melihat orang lain lebih baik dari kita. Mereka makan apa? Nasi kan? Kita makan apa? Nasi juga bukan? Kalo mereka bisa, kita juga bisa! Asal jang lupa berdoa dan berusaha sekuat tenaga!”

Tete Manis sayang, adik-adik dari pedalaman Papua ini dalam 4-5 tahun ke depan bisa jadi sarjana🙂

Ditulis @308, my office room.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s