Ketika aksara menjadi tujuan utama….

Kecewa bercampur emosi itu….ketika ngoreksi terus menemukan ada hasil Tugas Rancang yang sama persis!

Nah kalo ada yang sama berarti langsung kasi grade E! atau apa ya enaknya?

Saya coba share itu di pesbuk dan ternyata mendapat respon yang beragam. Sebagian besar minta supaya si mahasiswa baik yang nyontek maupun yang memberi contekan diberi nilai E! Itu artinya dia harus ngulang matakuliah tersebut🙂 Tetapi ada juga yang berpendapat dikasi nilai CD aja, supaya lebih terasa sesak di dada. Maklum untuk bisa lulus matakuliah harus nilai minimal C, nah kalo CD tuh kan nyaris jadi lebih terasa efeknya.

Alamak!

Pertanyaannya saya perluas, mengapa sampai si mahasiswa memilih untuk menyontek atau memberikan contekan? Saya mencoba melihat dari 3 aspek, si dosen, si pemberi contekan dan si tukang nyontek!

___________
Saya kemudian melakukan perenungan. Bisa jadi si dosen! Ya, bisa jadi tugas dari si dosen terlalu rumit untuk dikerjakan sehingga daripada tidak dikerjakan sama sekali mending nyontek aja! Tapi…. dari 120an mahasiswa yang dapat tugas, kok hanya 10an orang yang nyontek?😕 Saya lalu bertanya, kalo tugas yang diberikan terlampau susah, kenapa yang 100an anak lainnya bisa menyelesaikan dan tanpa melakukan plagiasi?
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan sementara, si dosen tak bisa dipersalahkan! (lumayan ada penghiburan bagi diriku…)😀
___________
Saya lanjutkan perenungan yang lain, dari sisi si pemberi contekan. Mengapa harus beri contekan?
Oh saya tahu, jawabannya simple! Gak enak kalo gak bantu teman! Bisa dibilang soulmate in crime gitu lah…. Maka wajar kalo korupsi merajalela di negeri ini. Soalnya kalo korupsi harus bareng2 dengan teman.
Atau seperti kasus KOPASSUS dulu itu yang akhirnya bunuh orang dengan alasan JIWA KORSA! Kebersamaan itu lebih utama walaupun harus melakukan kebiadaban! Meminjam istilahnya sudjiwotedjo, JUUANC*K!😡
___________
Saya lalu sampai pada perenungan terakhir, dari sisi si tukang nyontek! Mengapa harus nyontek?
Ada banyak alasan dikemukakan, dan yang paling utama: MALAS! Ya, karena malas makanya plagiasi dianggap sebagai jalan pintas.  Daripada harus menjalani proses, lebih baik langsung terbang santai menuju hasil! Maka tak heran, orang lebih pentingkan nilai(aksara) daripada ilmu. Bullsh*t kalo ngomong orang kuliah demi ilmu. Dari segitu banyak orang yang melanjutkan studi, hanya segelintir orang yang memang butuh ilmu, sisanya butuh yang lain. Bisa jadi butuh nyenangin ortu kalo sudah dapat gelar sarjana, bisa juga untuk gengsi2an di kampung atau bahkan untuk modal nikah! Toh, semuanya berpusat yang dituju itu gelar tambahan di belakang nama kok (ijasah). Coba lihat tuh, ada banyak orang yang marah apabila nama gelar mereka tidak ditulis bahkan diundangan nikahan pun harus ditulis! (memang sih itu hak tiap orang, tapi….kok terasa aneh ya?) Alamak! Ini yang dikatakan teman saya GAK ADA IJASAH GAK BISA IJAB-SAH!😯

Lihatlah para koruptor tuh, mereka semua pintar. Gelar akademisnya saja panjang-panjang. Bahkan ada yang gelar akademisnya lebih panjang dari nama pemberian ortu. Banyak juga kan para anggota legislatif kita yang membeli ijasah? Bodohnya lagi, lembaga akademik mau aja memberikan. Maklum UANG tak bisa ditolak! ujar para petinggi perguruan tinggi yang korup dan kolot! (banyak beritanya di media online tuh, coba aja gugling). cry
Jadilah negeri ini penuh dengan korupsi kotor! Begitu jadi anggota legislatif yang dikerjakan hanyalah bagaimana untuk mengembalikan modal pribadi, salah satunya, ya modal saat beli ijasah itu.

Banyak juga yang bahas, plagiasi itu dosa atau tidak? apalagi kalo plagiasi itu terpaksa dilakukan! rolleyes
Hahaaa…. dosa atau tidak itu bukan urusan kita. Kita kan bukan TUHAN. Tapi kita diberikan akal dan hati nurani untuk bisa membedakan yang BENAR dan yang TIDAK BENAR. Sudah jelas, PLAGIASI itu TIDAK BENAR! Betul tidak? lol

Kok saya jadi merembes ke banyak tempat ya? Baiklah, mari kembali ke topik utama, apa yang harus dilakukan untuk para tukang plagiasi ini? Saya sampai pada keputusan bulat, TIDAK LULUS dari matakuliah yang saya ampu!
Lebih baik saya berhasil mendidik 3-5orang mahasiswa dengan mutu dan hati nurani daripada saya harus menipu diri dengan memberi kelonggaran kepada puluhan atau bahkan ratusan mahasiswa lain yang suka nyontek. Yang pada akhirnya hanya untuk mendapatkan gelar tanpa mau peduli dengan nurani!

Mau berantas korupsi? Mari berantas plagiasi exclaim  lol

 

*curhat sama laptop di ruang kerja

One thought on “Ketika aksara menjadi tujuan utama….

  1. Pingback: evangsmailoa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s