Sosok sederhana itu bernama bu slamet…

Baru sadar ternyata tulisan ini sudah lama skali dibuat tapi lupa saya publish, masih tersimpan sbg draft  neutral Semoga cerita ini tidak karatan lol

Sore itu saya bersama kakak dan beberapa teman memang berencana untuk bersilahturahmi ke tetangga yang merayakan hari Idul Fitri. Setelah berkunjung ke beberapa tetangga, tibalah kami di kediaman ibu Slamet. Siapa dia?

Dua hari setelah pindah ke rumah kontrakan, dua tahun yang lalu, saya lagi asyik main dengan anjing hiperaktif saya si hachi. Nah kebetulan si ibu ini lewat. Beliau menyapa saya dengan “selamat sore mas“. Sontak saya kaget. Biasanya saya lebih cepat dalam menyapa orang yang lebih tua (dari kecil diajarin ortu begitu) tapi kali ini si ibu yang menyapa saya duluan rolleyes.Sapa-menyapa yang terjadi tidak berhenti hanya di hari itu saja. Besoknya dan besoknya bahkan sampai sekarang, setiap kali bertemu si ibu slalu menyapa saya. Untung saya tidak langsung minta si ibu jadi pacar saya. Hehehee… lol

Kakak saya yang memperkenalkan saya dengan beliau. “Itu ibu slamet. Beliau dulu suka nyuci baju mahasiswa yang tinggal di asrama. Ibunya baik” tutur kakak saya. Saya percaya saja, karena saya memang tidak pernah tinggal di asrama Kartini (asrama mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di kota kecil, Salatiga) tapi saya paling sering main ke asrama tersebut. Bahkan ada yang mengira saya anak asrama. Hehehee..lol

Kembali ke jalur cerita. Sore itu ketika berkunjung ke tempat bu slamet, saya tidak menduga kalau akan mempelajari banyak hal tentang suka-dukanya hidup!

Si ibu yang tetap cantik hingga usia tua ini, membuka obrolan dengan mencoba mengingat kembali satu persatu dari kami yang berkunjung. Ternyata si ibu masih mengingat dua orang mantan anak asrama, kakak saya dan salah satu teman saya. Nah, ternyata si ibu selama ini keliru mengingat saya. Si ibu mengira saya adalah kakak saya. Dia bilang kami kembar. Hahahaaa.. lol

Bu Slamet melanjutkan dengan bercerita pengalamannya selama kurang lebih 25 tahun menjadi ibu nyuci buat anak-anak asrama. Saya kaget bukan kepalang. Si ibu sudah mengabdi untuk mencuci di asrama semenjak saya baru dalam perencanaan papa dan mama saya eek Lantas saya bertanya kenapa ibu begitu setia dengan pekerjaan ibu? Bukankah gajinya sangat kecil? Si ibu menjawab dengan senyuman khasnya, “Karena saya cinta dengan pekerjaan ini mas.. Saya senang melihat mahasiswa-mahasiswi asrama kartini“. Sesederhana itu!

Lantas saya lanjut bertanya, apakah ibu masih bekerja di asrama kartini? Dan si ibu menjawab “tidak lagi mas..saya sudah berhenti sejak 2008 kemarin

Memang kenapa berhenti bu? “Saya sudah terlalu tua. Lagian gaji saya juga tetap tidak naik padahal saya sudah memohon untuk dinaikkan sedikit sajacry

Si ibu kemudian memaparkan perhitungannya. “Begini mas, kalo satu malam orang menginap di unit 1 (Salah satu unit di asrama kartini yang memang disewakan untuk orang tua mahasiswa apabila datang menghadiri wisuda anaknya atau sekedar menengok anaknya. Atau juga untuk kepentingan yang lain.) kan bayarnya Rp. 30.000. Nah kalo seminggu berarti kan Rp. 180.000 (si ibu menghitung 6 hari X Rp. 30.000). Nah saya bertugas untuk menyuci seprei yang mereka gunakan dengan biaya Rp 1.500/buah. Saya bilang ke pengelola untuk menaikkan Rp. 500 saja tapi tetap di tolak. Saya pikir ya sudahlah tidak apa-apa” Saya dan kawan2 terdiam sejenak menarik napas neutral

Si ibu kemudian melanjutkan “Walaupun saya cuma tukang cuci mas tapi saya bangga karena anak-anak yang dulu saya cuci baju mereka sekarang sudah banyak yang jadi Profesor atau bahkan bupati di daerahnya. Mungkin mereka tidak ingat saya, tapi saya selalu mengingat mereka“. Beliau menghela nafas kemudian melanjutkan “Setiap kali pulang main sepakbola dengan baju yang kotor mreka slalu bilang Bu, di cuci ya..” si ibu tersenyum kemudian melanjutkan “Itu kenangan indah bagi saya mas!

Masih banyak yang kami obrolkan namun mengingat kami masih harus berkeliling ke tetangga yang lain, akhirnya kami pamit pada bu Slamet. Beliau lantas berpesan. “Mas-mas tolong kuliah yang baik ya… Supaya besok bisa pulang ke daerahnya trus bangun daerahnya ke arah lebih baik!“. Saya jadi ingat kata2 mutiara waktu di SD dulu; orang-orang besar lahir karena adanya orang-orang kecil! Terima kasih ibu.. Teladanmu mengajarkan saya banyak hal…wink

6 thoughts on “Sosok sederhana itu bernama bu slamet…

  1. wah ini ibu dulu b pernah laundry di dia dua kali… wah ibunya bersahaja..klo berpapasan dengan beta di tangga asrama kartini selalu tegur ‘mas, apa kabar?’ dengan selalu menundukan kepala… suatu waktu bta dengan teman kamar ambil baju di rumah ibu, kami masuk ke dalam rumahnya sambil melepas sendal, beliau dengan lembut berkata…”pakai saja mas sendalnya, ini bukan masjid”. luar biasa pengabdian ibu slamet… proud of u bu…

  2. eh… Bu Slamet itu berarti istri dari Pak Slamet yang juga dulu kerja di Askarseba kah…?
    saya ingatnya Pak Slamet yang rajin nganter surat dan lain-lain dari unit ke unit….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s