Jangan berempati berlebihan!

Vivanews pada tanggal 5 Agustus 2011 memuat berita tentang Bawa Bayi Jadi Pengemis Akan Dibui. Hhhmm… Bangsa ini selalu mengedepankan rasa empati dan toleransi berlebihan! Kenapa tidak bisa tegas?

Mari kita lihat beberapa kasus yang bisa dijadikan contoh.

Pengemis

Pernah melihat orang mengemis bukan? Pastinya sering, kalo di Indonesia mengemis sudah menjadi mata pencaharian🙂 Kalau kita perhatikan, akhir-akhir ini pengemis semakin kreatif. Salah satunya dengan melibatkan anak-anak. Hahahaaa…😀 Tahu kenapa? Supaya pendapatan meningkat😎

Ketika melihat orang meminta-minta, pastinya kita tergerak karena wajah sedih mereka atau pakaian yang mereka gunakan. Lantas kita tanpa pikir panjang langsung memberikan Rp. 500 atau Rp 1.000🙂

Pikir kita, kita sudah membantunya. Yaa benar, kita membantunya untuk menjadi pengemis seumur hidup!

Usul konkrit saya, untuk para pengemis berhentilah kita memberikan uang kepada mereka. Dengan demikian bukan berarti kita pelit atau tidak punya hati… tapi jauh dari itu, kita penuh kasih; kasih yang tegas! Kita perlu mendidik mereka untuk berjuang bertahan hidup bukan dengan belas kasihan dari orang lain. Sediakanlah pekerjaan untuk mereka. Misalkan mencuci piring atau menyapu halaman. Setelah itu berilah mereka upah, sehingga mereka belajar bahwa untuk bertahan hidup selalu ada jalan. Bukan hanya dengan duduk manis, bermuka suram-sedih sambil membuka tangan menunggu dikasihani.

Bencana dan Cerita sedih

Contoh lain yang tidak kalah penting adalah ketika terjadi bencana di negeri ini. Televisi menayangkan suasana sedih dengan diiringi lagu super duper sedih😦 Masih ingatkan Tsunami melanda Aceh dan Nias kemudian meletusnya Merapi? Setiap hari yang kita tonton adalah tangisan dan ratapan dari orang yang mengalami bencana. Tujuannya hanya satu supaya kita merasa iba dan sedih kemudian mau membantu korban bencana tersebut. Berarti kalo tidak ada bencana kita tidak mau membantu sesama dong?😯

Usulan konkrit saya langsung kepada pemerintah untuk tidak menampilkan suasana sedih ketika bencana terjadi tetapi hasil pantauan di lapangan, seperti berapa korban jiwa, berapa yang selamat, berapa yang hilang. Itu jauh lebih penting daripada sekedar menampilkan foto-foto korban bencana sambil memutar lagu sedih!

Kita harus belajar dari negara Jepang yang selalu cepat untuk bangkit dari keterpurukan. Ketika di bom pada tahun 1945, Jepang bukannya meratapi kekalahannya tetapi langsung bangkit. Mereka mengirim banyak putra-putri mereka untuk sekolah ke luar negeri dan kembali membangun negeri. Lantas sekarang Jepang merupakan salah satu negara dengan teknologi paling maju bukan hanya di Asia tapi di Dunia! 9-) Ketika kasus tsunami yang terjadi beberapa bulan yang lalu, tidak ada satu stasiun TV yang menyiarkan foto-foto korban dengan lagu sedih seperti di Indonesia. Malah mereka menampilkan info terbaru dari tempat kejadian. Alhasil tidak sampai seminggu korban-korban sudah di evakuasi dan dalam sebulan puing-puing akibat tsunami sudah dibersihkan. Mereka tidak terlena dari kemalangan yang menimpa tetapi berjuang keluar dari kemalangan tersebut.

Contoh yang lain. Masih ingat ajang pencarian bakat yang beberapa tahun terakhir begitu terkenal? Seperti IMB (Indonesia Mencari Bakat) atau Indonesia Idol bahkan ada juga tuh untuk yang masih kecil-kecil; Idola Cilik?😯

Nah dalam ajang tersebut, tidak usah susah payah kalian mengirim sms supaya jagoan kalian menang. Cara untuk menang gampang kok. Tinggal cari aja orang yang punya cerita sedih. Pasti orang tersebut akan dapat banyak dukungan untuk segera menang dan terkenal. Jadi, kita dapat menarik kesimpulan; mau menang harus punya cerita sedih! Alhasil, kita semua pasti tahu. Juara Idol biasanya tidak berbobot😦 Paling lama dia akan bertahan selama setahun, setelah itu hilang lenyap entah kemana…

Lagi-lagi, cerita sedih….

Syukurlah sekarang sudah berkurang dan bisa dikatakan mati. Mungkin pemirsa sudah bosan melihat adanya rekayasa dalam ajang tersebut. Atau mungkin pihak TV sudah kehabisan stok cerita sedih yang bisa mendatangkan untung lewat sms🙂 Usulan saya hentikan kebodohan kita untuk mendukung sms atau menonton ajang bodoh tersebut😛

Bangsa ini bukanlah bangsa yang pemalas. Kita lah yang membuat bangsa ini menjadi pemalas.

Kita bangsa yang besar! Tergantung ada kemauan menuju ke arah itu atau tidak.

Mari bersama mendidik muda-mudi kita sedini mungkin untuk survive bukan hanya dengan mental pengemis! Mulai lah dari anak balita kita (bagi yang punya kalo blom punya silahkan dibuat supaya punya :D), jangan hanya menuruti apa yang mereka mau tapi biarkan mereka berusaha untuk mendapatkannya, bukan pemberian kita.

Selamat berjuang untuk menjadi bangsa yang tidak gampang menyerah!

Smoga berguna!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s