Saya bukan penjual KECAP!

Pagi tadi setelah pulang dari menikmati pemandangan indah di atas Telomoyo, saya mampir ke tempat pakde.

Kami terlibat asyik dalam diskusi dan sesekali berdebat sambil menikmati teh hangat dan beberapa potong kue. Mulai dari perihal Nazzarudin yang rame dibicarakan sampe hal-hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Nah perihal pendidikan, pakde membuka dengan cerita jaman behula; kalo kata orang sekarang sejarah. “Kampus ini dulunya paling sedikit menerima mahasiswa karena memang seleksi masuk yang sangat selektif” begitu kata pakde.

Beliau berhenti sejenak, mengambil kembali sebatang rokok dan melanjutkan “Filosofi itu sama seperti mendidik.. Usahakan satu saja yang kau urus. Jangan terlalu banyak, supaya berkualitas!”

Saat pakde mulai bercerita tentang hal tersebut, saya jadi ingat salah seorang satpam yang sudah bekerja sejak tahun 80-an pernah mengungkapkan hal yang sama. “Sekitar tahun tersebut (80-an sampai 90-an awal) sejak masih subuh mas, kampus sudah dipenuhi dengan ribuan orang yang ingin mengikuti seleksi masuk. Sayangnya yang diterima hanya ratusan”😯 Banyak sekali peminatnya? Udah kayak UMPTN aja…

Saya kemudian bertanya kepada pakde, “Lah kalo mahasiswanya sedikit, bagaimana menghidupi dosen dan pegawai?”.

“Tergantung manajemen. Jaman itu manajemennya sangat baik. Bahkan dosen di kampus gajinya lebih besar dari PNS!” jawabnya. Wew, asyik juga jadi dosen kala itu pikir saya. Kan banyak duitnya😎

Beliau kemudian mengambil sebatang rokok, menyulutnya dan kemudian melanjutkan cerita.

“Kalau saya punya sebuah barang ini!” sambil meletakkan sebungkus rokok di atas meja. “Saya hargai 10 juta!” sahutnya.

Pakde kembali merokok kemudian melanjutkan “Kemudian saya punya 10 barang yang kualitasnya tidak sebagus ini tapi harganya murah 1 juta per buah”.

Beliau merokok lagi…

“Kira-kira mana yang jauh lebih punya nilai jual?” sambil mengarah ke saya dan menunjukkan wajah mengharapkan jawaban. Saya diam sejenak (agak lama sih sebenarnya :D) sambil berpikir….

Mungkin karena terlalu lama berpikir, beliau langsung melanjutkan “Saya akan memilih yang satu saja tetapi dengan kualitas yang bagus! Karena akan banyak penawar yang meminati barang tersebut. Dengan begitu harganya pun bisa saja melambung naik”.

Saya lantas bertanya, “Lah kenapa tidak menjual yang sepuluh saja? Kan banyak tuh! Kemudian hasilnya juga sama 10 juta!”.  😎

Pakde menyahut, “Itu buang waktu dan tenagamu, karena harus merawat 10 barang tersebut”😯

Beliau berhenti sejenak, mengambil kembali sebatang rokok dan melanjutkan “Filosofi itu sama seperti mendidik.. Usahakan satu saja yang kau urus. Jangan terlalu banyak, supaya berkualitas!”

Saya kemudian menyanggah, “Tapi kalo misalkan saya mampu mendidik 10 dan kualitasnya baik, bisa saja kan?”. Saya senyum-senyum…😎

Pakde lantas menjawab sambil tertawa “Bagaimana kamu mendidik sebanyak 10 kalo kamu cuma punya waktu terbatas dengan mereka?”. Kemudian beliau lantas menyulut kembali sebatang rokok yang tadi sudah diambilnya dan melanjutkan “Atau mereka harus jadi mahasiswa abadi?😯 Kan kamu harus membimbing mereka dengan tekun?!”

Kemudian beliau lantas berpesan, “Tidak usah ambil banyak untuk dididik. Ambil saja sedikit, seberapa yang TUHAN percayakan kepadamu, kemudian buatlah dia berguna di masyarakat!”

Saya kemudian bergurau kepadanya “Lah, bagaimana kalo saya ambil aja banyak trus didik mereka semampu saja. Nanti begitu lulus tawarkan mereka ke perusahaan-perusahaan. Bisa kan?”

“Ingat, kamu bukan penjual kecap! Kamu pendidik!” jawabnya tegas, sejujurnya saya ketakutan.. Untunglah beliau kemudian tersenyum🙂

“Kalo misal kamu diibaratkan penjual, orang akan membeli darimu. Karena mereka tahu bahwa kamu punya barang bagus. Kamu tidak perlu berteriak-teriak untuk menjajakan barang seperti penjual kecap, karena dengan sendirinya pelanggan akan datang”.

Pemikirannya benar-benar lucu…

Tapi, saya tergugah… Sangat tergugah…

Trimakasih pakde! Saya jadi sadar… Saya bukan penjual kecap, saya ingin jadi pendidik🙂

Smoga bermanfaat!

8 thoughts on “Saya bukan penjual KECAP!

  1. Dari artikel di atas:
    Apa yang menjadi mutifasi UKSW? khususnya FTI yang tiap tahun menerima begita banyak mahasiswa yang kalau dilihat dari luar sepertinya tidak melalui seleksi. Mungkinkah akan menjadi seperti penjual KECAP atau kah PENDIDIK yang memiliki nilai jual yang tinggi?

    1. Weleh2… Pertanyaanmu kok seperti membabi-buta😯

      Pertama, apa yg jadi motifasi UKSW? Kalo itu saya tidak tahu adik Hendrik (semoga benar kamu lebih muda dari saya), mungkin kamu bisa langsung bersurat kepada rektorat.

      Kedua, FTI.
      Kamu bilang bahwa kalau di lihat dari luar seperti tidak ada seleksi. Ini mungkin opinimu, tapi sebaiknya ini berdasarkan fakta ya…
      Saya kurang setuju jika tulisan ini langsung di tujukan untuk FTI. Memang saya lulusan FTI dan juga membantu mengajar di FTI tapi tulisan ini bukan hanya ditunjukkan kepada FTI loh, tapi dunia pendidikan secara luas. Jadi agak kurang tepat kalo pertanyaanmu hanya dikhususkan kepada FTI! Kesannya menghakimi! Ingat loh, penghakiman itu hanya hak yg kasi kita nafas hidup!😀

      Mengenai pendapat saya, sah-sah saja bila FTI atau fakultas manapun bahkan universitas manapun, mau menerima banyak mahasiswa. Itu kan hak-nya, betul? Apalagi sekarang dunia IT lagi trend makanya banyak yg ingin belajar IT😎

      Nah yang ingin saya soroti adalah bagaimana lembaga pendidikan mampu membentuk mahasiswa supaya ketika lulus nanti bisa berguna😀

      Itu kenapa pakde saya hubungkan dengan tenaga pengajar. Kalau tenaga pengajar banyak dan berkualitas, pasti lulusannya juga walaupun banyak tetap berkualitas bukan? Ini berlaku untuk semuanya bukan hanya UKSW atau FTI yang kamu maksudkan.

      Semoga penjelasan saya bisa dipahami,

      Salam!:mrgreen:

  2. Ok di mengerti……!
    Sori karena telah membuat pertanyaan seperti di atas, masalahnya saya hanya melihat dari luar saja n tidak berdasarkan fakta yang akurat. saya hanya bisa tujukan kepada FTI karena saya kulia di FTI juga hehehehehehe

    Terimakasih Kaka sudah menanggapai pertanyaan saya, kebutulan saya juga mengambil jurusan pendidikan komputer di FTI n ini bermanfaat jugua bagi saya.
    “Kalau tenaga pengajar banyak dan berkualitas, pasti lulusannya juga walaupun banyak tetap berkualitas ” hehehehehehe

  3. soal berkualitas atau tidak biar orang lain yang menilai………soal tugas pendidik adalah memberikan yg terbaik bagi anak didiknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s