Saya bukan pelacur!

Jangan terkecoh dengan judul di atas kawan, karena biasanya pelacur dikonotasikan dengan wanita; sedangkan saya pria tulen! Kalo tidak percaya, silahkan tanyakan kepada saya🙂

Judul di atas saya pilih untuk menggambarkan apa yang saya alami dalam dunia pendidikan. Cerita ini merupakan kejadian setahun yang lalu. Kala itu saya diminta mengajar sebagai dosen tamu untuk salah satu universitas swasta.

Sore itu seperti biasa saya duduk santai sambil menikmati segelas teh hangat tanpa kue ataupun roti; saya lupa membelinya :( 

Terdengar suara gerbang halaman dibuka dan langkah kaki mendekati pintu rumah. Selang beberapa detik ada suara menyapa “Selamat sore!”. Dari suara yang saya dengar, saya tahu itu pasti seorang pria. Saya kemudian berdiri dan membuka pintu sambil menyapa balik.

Dia lantas mengeluarkan amplop putih tebal berukuran sedang dan menyerahkan kepada saya. Saya tahu itu berisi duit!

Sesosok pria yang berada di depan pintu adalah seorang yang tidak asing buat saya. Saya sudah menganggapnya teman baik; walaupun belum mengenalnya lama. Saya mengajaknya masuk, tapi dia menolak.

“Di sini saja”, sahutnya. Saya juga tidak mau memaksanya dan menuruti maunya.

Dia lantas mengeluarkan amplop putih tebal berukuran sedang dan menyerahkan kepada saya. Kemudian dia mendekat sambil berbisik “Tolong dibantu ya…”

Dengan tatapan bingung saya memandangnya kemudian bertanya “Ini apa?”.

“Ada sedikit berkat” jawabnya.

Kemudian pria tersebut pamitan, sebelum meninggalkan saya dia bilang “Tolong ini off record ya.. Jangan kasitau siapa pun!”

Sambil menghela nafas sejenak dia lanjutkan kalimatnya “bantulah nilai adik saya!”.

Saya terperangah melihat dia berjalan menjauhi saya dengan gerbang halaman yang masih terbuka lebar. Sejenak, serasa jantung saya berhenti! Saya tidak menyangka!

Saya masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya menutup kembali gerbang halaman. Saya membuka amplop tersebut yang sudah saya duga isinya; duit. Di dalam amplop tersebut terdapat beberapa lembar uang senilai Rp. 100.000.  Lumayan banyak, cukuplah untuk berfoya-foya.

Beberapa hari sebelumnya saya sudah bertemu teman ini dan dia memang bertanya tentang nilai adiknya. Dia juga sempat bertanya apakah mungkin untuk menaikkan nilai tersebut. Mungkin karena saya tidak mengabulkannya maka dia berpikir dengan jalan ‘amplop’ hati saya akan luluh; dia keliru.

Adiknya sebenarnya termasuk salah satu mahasiswa yang lumayan pintar. Nilai TTS dan TASnya tidak terlalu buruk hanya saja nilai praktikumnya benar-benar kurang (padahal bobot praktikum sama besar dengan bobot TTS) begitu juga nilai tugasnya; ada 2 tugas yang tidak dikerjakan!

Sejujurnya, saya tidak meng-kebiri nilai anak tersebut. Saya hanya memberinya nilai yang sesuai dengan patokan juga pertimbangan saya terhadap kemampuan anak tersebut.

Sayangnya si kakak berharap nilai adiknya akan saya berikan ‘A’, mengingat saya kenal dengan adiknya juga dia.

Pendek cerita, saya menghubungi teman tersebut dan menyatakan bahwa saya ingin mengembalikan amplop pemberiannya itu (beserta isinya tentunya).🙂

Namun teman tersebut bersikeras menolaknya. Mungkin dia malu. Saya mengutarakan kepadanya bahwa saya tidak bisa membantu nilai adiknya karena uang pemberian tersebut.

Selang beberapa hari kemudian, saya mendengar dari beberapa mahasiswa bahwa ada banyak dosen yang mau memberi nilai baik apabila ada ‘harga yang pas’.😯

Saya terheran-heran mendengar penuturan mahasiswa-mahasiswi tsb.

Saya bukan orang suci.

Saya juga termasuk dalam kawanan orang berdosa.

Tapi saya bukan pelacur! Saya tidak menjual jiwa saya…

Saya takut kepada DIA yang memberi nafas hidup…

Maaf,

#jangan tanyakan siapa orangnya sebab saya sudah berjanji tidak akan memberitahukan kepada kalian🙂

15 thoughts on “Saya bukan pelacur!

      1. saya setuju dengan evangs… tidak semua seperti itu… cukup dengan teguran keras dan didikan yang baik, mahasiswa tersebut akan dengan sendiri menilai bahwa nilai akan sebanding dengan usahanya… kalo saya sih dapat jelek, ya belajar lagi dan ulang matakuliah yang sama di dosen yang sama… dan tentunya buktikan bahwa saya layak dapat A…. Hal ini sudah saya lakukan dulu waktu kuliah…🙂

  1. Saya sangat setuju keputusan Evangs. Ini bukan soal suci-tidak suci, beriman atau berdosa. Hanya soal efeknya saja. Pertama, nilai A atau D bagi mahasiswa yang bersangkutan tidak punya makna apa-apa. Tidak pernah bisa mengubah dirinya dari sesuatu ke sesuatu yang lain. Ia mendapat nilai A atau D, saya berkeyakinan bahwa pengetahuan dan sikap dirinya sama saja sebelum dan sesudah mendapat nilai itu. Kalau pun ada perubahan, maka perubahan yang muncul adalah sikap yang makin mengokokohkannya untuk menggampangkan hal-hal serius. Kedua, bagi Evangs sendiri ada-tidaknya uang yang disebutnya “berkat” itu juga tidak mengubah apa-apa dalam diri Evangs. Kalaupun itu, umpamanya, diterima dan dipakai berfoya-foya pasti akan habis juga, bukan? Selamat ya!

    Salam.

  2. Hmm,,, seharusnya kata pelacur itu terbatas untuk para orang-orang yang menjual dirinya untuk memenuhi nafsu bejat mereka yang memerlukan. Dalam hal ini rasanya kurang tepat jika menggunakan kata pelacur.

    Jika demikian para polisi yang biasa disogok dijalan, oknum pemerintah baik itu di catatan sipil maupun kantor KUA, oknum pejabat kelurahan yang biasa menerima uang dalam membuat KTP atau apalah adalah pelacur? Maaf rasanya tidak tepat.

  3. Trimakasih masukannya…
    Kata ini saya pilih karena sebagian besar orang menganggap jijik dengan kata ini padahal kata ini berkata jauh lebih berani daripada kata lain!
    Bagi saya oknum yang menerima uang baik itu pemerintahan adalah PELACUR karena menjual kehormatannya demi uang!!! Jadi bukan hanya tubuh yg dijual tapi jiwanya, itulah mengapa saya menganggap seperti menjual kehormatan.
    Smoga dengan pemilihan kata ini mau mengubah citra orang yg suka disogok agar malu terhadap diri sendiri, dan tidak hanya memandang hina pelacur dalam artian sebenarnya seperti yg kamu maksud.
    Sekali lagi trima kasih…
    :mrgreen:

  4. Pingback: evangsmailoa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s