Ujian itu ajang ‘pembantaian’ ataukah…?

Apakah anda mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan menghadapi ujian skripsi atau kah anda merupakan mahasiswa yang baru saja ujian skripsi?

Mungkin anda pernah mengalami yang pernah saya alami ini.

Saya sudah pernah mengalami 2 kali ujian yang menurut saya lumayan berat🙂 Tapi saya melewati semuanya dengan senyuman :) Thx to GOD! Without HIM, I’m nothing!

Saat maju untuk ujian skripsi rasanya seperti lagi di sidang karena kasus korupsi triliunan rupiah! Itu yang saya rasakan. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dosen penguji maupun terkadang dosen pembimbing pun ikut bertanya. Belum selesai satu pertanyaan terjawab, sudah ada pertanyaan lain yang dilayangkan. Benar-benar serasa hujan pertanyaan. Suasana ujian serasa suasana interogasi teroris atau para koruptor. Bahkan terkadang ada juga penguji yang sengaja membuat ‘pertanyaan aneh’ yang akhirnya membuat saya kebingungan dan dengan santainya beliau menertawakan saya seakan ‘PUAS‘. Apakah saya marah? TIDAK. Sama sekali TIDAK.

Saya bahagia ketika penguji menertawakan saya atau bahkan menghujani saya dengan berbagai macam pertanyaan. Itu berarti saya masih jauh dari sempurna sehingga perlu belajar meneliti lagi🙂  Bahkan terkadang ada yang menyindir: “Penelitian macam apa ini? Dangkal sekali!”. Sempat mau marah merasa tidak dihargai tapi bagi saya itu ‘cambuk’ yang manis. Walaupun sejujurnya saya tidak setuju apabila ujian akhir dijadikan ajang ‘bantai-membantai’. Terkadang sedih juga😦 melihat teman-teman seperjuangan ada yang sampai menitikan air mata setelah keluar dari ruang ujian. Hhhmmm…

Saya jadi bertanya-tanya apakah benar ujian akhir itu merupakan ajang ‘pembantaian‘?

Saya rasa seharusnya TIDAK! Ketika menguji, yang perlu dipahami adalah sejauh mana mahasiswa tersebut melakukan penelitiannya dan menguasainya. Apabila terdapat kekeliruan seharusnya penguji (biasanya gelarnya lebih tinggi) mendiskusikan pandangannya kepada mahasiswa tersebut dengan terbuka dan tanpa ada unsur ‘menerkam’. Bukankah setiap penguji yang memiliki ilmu lebih banyak seharusnya membuka ‘cakrawala berpikir’ dari mahasiswa yang sering dikatakan ‘ilmu’nya masih minim?

Saya selalu berpendapat lebih baik berbagi ilmu yang kita punya dengan terbuka daripada membantai dan merendahkan orang lain karena merasa kita lebih bisa, lebih pintar, atau lebih hebat!

Tulisan ini bukan bermaksud untuk memojokan satu atau beberapa orang, tapi sebagai masukan bagi semua pembaca termasuk saya pribadi. Kalau berkenan silahkan ambil maknanya dan apabila tertarik boleh berdiskusi lewat comment box di bawah. Tapi apabila tidak berkenaan, anggaplah angin lalu dan lewati saja tanpa perlu membebani pikiran pembaca sekalian yang terhormat.

Semoga bermanfaat!

4 thoughts on “Ujian itu ajang ‘pembantaian’ ataukah…?

  1. Iya Kak Evang benar yang kau nyatakan di atas, tetapi dalam kenyataanya Ujian Skripsi akan menjadi pembantaian terhormat di suatu ruangan.🙂
    Atau sebelum aku Sidang, tulisan kak Evang ini aku masukkan ke dalam lampiran para penguji agar lebih empuk bila menguji?🙂 Bisa juga tulisan ini jadi link tetap ke fti paperless

    Semoga pandangan-pandangan kita semakin jauh lebih baik dan Terima kasih untuk wangsitnya yang selalu bersyukur pada apapun yang akan terjadi nantinya.

    -dbee_curly

  2. Maksudnya pembantaian terhormat apa adik?
    Menghina dan merendahkan pendapat orang atau penelitian orang apakah ‘terhormat‘?

    Saya bukan mau menggurui para penguji, wong saya aja masih jauh dari sempurna…🙂 Hanya mencoba mengeluarkan pendapat saya tentang apa yang saya lihat terjadi selama ini.

    Semoga bermanfaat!

    1. waaahhhh….enakx masalah kyak gni di disukusikan pada rapat fakultas kak evangs.
      supaya ujian brikutnya pembantaian sudah tidak brlaku lagi…ckckc

      msalah pembantaian gk prlu liht jauh” smpai ke ujian skripsi kak evangs…contoh simple pada setiap responsi klass praktikum…psti ank” mahasiswa yg mw diresponsi akan dibantai dgn brbagai mcm prtanyaan ngaur tnpa adanya solusi(demi menyombongkan diri)..akhirnya asisten akan membrikan nilai JELEK jka mahasiswanya gk bsa jawab…pdhal bkn krna gk tw smpai gk bsa jwb, tpi krna tkut dn GROGI(pengalaman jdi asisten tpi asisten yg baik)..ckckkc

      msalah lain yg mnyebabkan adanya pembantaian, krena adanya tradisi balas – membalas…mungkin dlu para penguji prnah mrasakan hal yg sama mkax membrikan dmpak yg sma jg bgi yg diujikan…
      mkax kmbali lg ke kata seblumnya mnding didiskusikan masalah sperti ini dlm evaluasi fakultas….ckckckckckk

  3. Eto, sebenarnya saya sudah sempat diskusi dengan beberapa teman dosen. Berhubung saya hanya dosen tamu makanya saya tidak bisa mengikuti rapat fakultas, semoga teman2 yang saya ajak diskusi mau membawa wacana ini ke dalam rapat.
    Memang ada tradisi saling membalas, tapi siapa bilang kita tidak bisa merubah tradisi tersebut?
    Setiap ada niat melakukan hal yang baik dan benar, slalu ada jalan!
    Thx sudah mau berbagi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s