Perlukah di batasi bahan ajar?

Pasti pembaca sekalian bingung dengan judul tulisan saya. Sejujurnya saya bertanya-tanya apakah benar apabila kita membatasi bahan/materi apa saja yang harus di ajarkan ke mahasiswa atau peserta didik?

Hampir setiap dosen (yang saya tahu di UKSW) sebelum memulai mengajar sebuah matakuliah pasti mempunyai SILABUS atau acuan ajar. Alasannya supaya materi yang dibawakan sesuai dengan acuan awal. Apakah salah? Saya rasa tidak salah!

Benar setiap materi disesuaikan dengan acuan awal. Yang menjadi perhatian saya, mengapa terkadang pengajar membatasi dan membagi materi berdasarkan strata S1, S2, dan S3. Hhhmm…

Tadi saya sempat bertukar pikiran dengan Pak Danny Z. (salah satu dosen senior UKSW), beliau mengatakan setiap dosen harusnya membagi ilmunya tanpa membatasi atau membagi ke dalam strata tertentu. Misalkan apabila seorang dosen lulusan S3, dia harus share knowledge S3-nya bahkan kepada mahasiswa D3 atau S1. Masalah kemampuan memahami itu kembali ke diri mahasiswa tersebut.

Sejenak saya berpikir, benar juga… Kenapa terkadang para pengajar selalu mengatakan : “Saya membatasi materi buat S1 supaya mereka tidak berpikir terlalu sulit”. Saya rasa disinilah letak kekeliruannya. Bukankah ilmu yang kita dapat untuk di bagikan? Terserah mahasiswanya, dia dapat mengambil semua atau sesuai kemampuannya saja.

Jangan dibatasi teman!

Semoga bermanfaat!

(Refleksi bersama buat teman2 pengajar)

7 thoughts on “Perlukah di batasi bahan ajar?

  1. msalahnya lagi waktu perkuliahan yang cukup terbatas sehingga menuntut pengajar untuk memberikan materi /perkuliahan dengan cepat….
    bisa dibayangkan kalau matakuliah tertentu yang membutuhkan praktikum selain teori….!!🙂 sebagai saran saja untuk perkuliahan selanjutnya yang aktif bukan lagi dosen/pengajarnya yang selalu memberikan materi tapi mahasiswalah yang selalu aktif…..!!!🙂 http://www.sourcevisual.wordpress.com

  2. stuju…!!!
    masalahnya dilema di dunia pendidikan kita yg di cari bukan ilmu tapi nilai sehingga mahasiswa hanya mau mencatat (kayak jaman saya SD) tanpa mau mencari tambahan ilmu 🙂

  3. Galberto Tuwondila :
    msalahnya lagi waktu perkuliahan yang cukup terbatas sehingga menuntut pengajar untuk memberikan materi /perkuliahan dengan cepat….
    bisa dibayangkan kalau matakuliah tertentu yang membutuhkan praktikum selain teori….!! sebagai saran saja untuk perkuliahan selanjutnya yang aktif bukan lagi dosen/pengajarnya yang selalu memberikan materi tapi mahasiswalah yang selalu aktif…..!!! http://www.sourcevisual.wordpress.com

    berarti sekarang kuliah karena materi. karena di benak rata-rata pengajar saat ini adalah yang penting materi selesai. makanya kenapa ada sistem make-up kelas..itu karena kejar materi. yang penting habis materi. entah mahasiswanya mudeng atau kadak yang penting materi selesai. jadinya kaya sopir angkot yang kejar setoran.🙂
    ini ciri-ciri pengajar yang tidak expert di bidangnya..ckckck

    yang dibilang evangs benar. coba sekarang liat, jarang ada dosen dengan gelar tertingginya ingin membagikan ilmunya kepada mahasiswa. makanya itu saya tanya. apa yang membedakan pengajar atau pendidik..hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s